Minggu, 08 Februari 2026

Teks pendek? Teks Panjang?

Suka teks pendek? atau teks panjang? 

Perbedaan generasi dan perbedaan sifat terhadap hal yang detail mempengaruhi kedua pilihan tersebut. 

Dulu kayaknya gampang aja nulis panjang, sekarang sepertinya semua serba ke inti. Tapi buat apa juga nulis panjang kalau intinya hanya sebaris? 

Kamu mau bikin teks pendek? 

Buatlah satu kalimat yang memiliki pesan yang penuh. 

Mau bikin teks panjang? 

Buatlah kerangka dulu mau membahas poin poin apa saja. Lalu susun paragraf per paragraf. 


Apakah menulis masih relevan? 

Sebagian orang mulai menyadari bahwa menonton tidak selalu memudahkan pemahaman. Saya pribadi menyadari nya juga. Lebih baik mengulang bacaan dari pada mengulang video. 

Bagaimana dengan kamu? 

Senin, 02 Februari 2026

Halo, Blogger baru (lagi)

Sungguh, ini masalah faktor kenyamanan dan anti distraksi. Saya mondar-mandir dari wordpress ke Blogger. 

Blog pertama saya adalah Blogger. Blog yang simpel dan bisa juga dibikin ga simple. Saya sempat meninggalkan Blogger lama saya menuju wordpress. Disana nyaman, enak, segala setting tersedia, dan bisa terhubung dengan pembaca lain di reader. 

Namun, wordpress terupdate menjadi yang baru dengan lebih banyak opsi settingan. Kadang saya merasa lelah dengan banyaknya pilihan settingan. Ada tag dan ada category, itu sendiri sudah bikin pusing. Sekarang ditambah lagi sistem settingan kolom. Lebih asik memang, bikin tampilan kelihatan bagus. Tapi itu juga jadi bikin lelah. Kadang, saya rindu sekali dengan wordpress yang sebelum berubah ini. Akhirnya saya hanya ingin pulang ke Blogger. 

Maklum, saya lebih condong ke tulisan dari pada tampilan. 

Teks pendek? Teks Panjang?

Suka teks pendek? atau teks panjang?  Perbedaan generasi dan perbedaan sifat terhadap hal yang detail mempengaruhi kedua pilihan tersebut.  ...